Khalisha Nur F (17) - XII MIPA 7 (Teks Cerita Sejarah)

 Judul: Bunga Tidur Majapahit

Penulis: Khalisha Nur F

Kelas: XII MIPA 7 


                                                                                         Bunga Tidur Majapahit

Pagi cerah dengan oksigen yang menyegarkan sisa hujan tadi malam mengutangi pasokan polusi yang menyesakkan. Jam sudah menunjuk angka 6 lebih 10 menit. Waktuku pergi menimba ilmu di SMA Negeri tempatku belajar. Setelah aku berpamit pada ayah dan ibbuku, aku pergi mengayuh sepeda. Selama perjalanan, bersenandung ria tanpa tahu aku sudah menghabiskan waktu sekitar setengah jam membuatku harus mengayuh keras tiba-tiba. Untung gerbang sekolah masih dibuka. Hampir terkena skors oleh guru piket meski masih dihadiahi celotehan guru dipagi hari bak burung beo.

Bel sekolah berdering terlalu keras hingga memekakkan telinga. Aku berjalan menuju kelasku, XII MIPA 7 lalu duduk dibangku barisan ke-2 dari depan dekat dengan kusend jendela kelas. Teman sebangkuku sudah duduk nyaman disana. Dia adalah Faysal Arya, teman sebangku yang terlewat rajin dikelas kami. Lelaki itu menatapku dengan pandangan iba.

“Lihat. Masih pagi keringatmu mengalir deras seperti selesai lari marathon” Ucaonya puitis. Sedikit jijik menurutku.

“Aku kan memang bersepeda. Sudah jelas jika aku keringetan” Ujarku sembari duduk menata diri

Tak ada lagi percakapan selanjutnya. Guru perlajaran pertama, biologi datang dengan buku tebal yang ia gendong. Melihatnya saja sudah kuketahui bahwa itu sangat berat. Kegiatan pembelajatan berjalan sampai jam terakhir. Baik siswa maupun guru sama-sama menahan letih dan gerah panas. Sesekali ketiduran karena bosan mendengar penjelasan guru yang kebetulan adalah mata pelajaran Sejarah Indonesia. Bab Sejarah kami sudah mulai di Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Mengenal kerajaan bercorak Hindu Buddha dari yang pertama kali berdiri sampai terakhir, tak habis-habisnya sang guru menjelaskan dengan suka cita. Akhirnyapun kami ditugasi untuk membuat sebuah artikel mengenai kerajaan-kerajaan yang sudah ditentukan, berkelompok dengan teman sebangku dan hanya diperbolehkan mengambil sumber acuan dari buku ataupun peninggalan-peninggalan kerajaan tersebut dan aku mendapat bagian Kerajaan Majapahit.

Bel pulang berbunyi nyaring, akhirnya penantian selama kurang lebih 9 jam terbayarkan. Para siswa berkemas begitu semangatnya. Seusai menyiapkan diri dan berdoa, berbondong-bondong pergi dari Gedung sekolah yang menyesakkan. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah bersama teman sebangkuku. Beberapa kali kudengar dengan celotehannya yang sesekali membuatku tertawa.

“Baiklah aku akan menunggu jemputan” ujar Faysal mendapati orang yang menjemputnya belum terlihat disepanjang jalan depan gerbang sekolah.

“Mau di temenin?” tanyaku. Ia menggeleng sembari berucap “duluan saja”. Lalu aku mengangguk, mulai mengayuh sepeda dengan pelan.

Santai sembari menikmati pemandangan sawah yang kulalui, bersenandung lagu favoritku. Kayuhanku berhenti saat merasa getaran di saku celana. Faysal menelpon membuatku menggeser ikon hijau lalu mendekatkan benda pipih itu ditelinga kiri. Tanpa sapaan apapun ia bicara,

“Sa, temenin aku dong. Bapak masih dinas lama. Sekalian kita diskusi buat tugas sejarah” aku sedikit menimang lalu mengiyakan ucapannya.

“Ya sudah, aku balik” ia berterima kasih padauk sebelum aku mematikan panggilannya.

“Nanda!” aku mendengar teriakan memanggil namaku. Mencari dimana sosok itu berada lalu berhenti kala aku melihat ia melambaikan tangan di teras café samping sekolah. Aku menuntun sepedaku, menoleh kanan kiri memastikan kendaraan masih jauh untukku menyebrang. Kala aku mulai menyebrang jalan raya, aku terheran dengan raut muka Adrian berubah teramat cemas menatapku seiring dengan bunyi klakson mobil yang tiba-tiba terdenggar menusuk telinga.

“Nanda!!!” tubuhku terbang. Seolah taka da beban. Aku mendengar teriakannya berlari padauk. Suara samar Langkah-langkah kaki mulai mendekatiku, mengerumuni.

Tubuhku tak bisa digerakkan. Serasa hancur dan remuk. Aku tak sadar seluruh bajuku sudah terkena cipratan darah sendiri.

“Nanda!” panggilan itu terdengar lagi. Aku tak dapat melihat sosoknya yang masih berusaha memanggiku. Sedikit demi sedikit suara itu semakin mengecil, samar teramat samar. Belum sampai mataku menangkap sesuatu, pandanganku sudah diambil alih oleh kegelapan yang menyelimuti.

“Uughh” aku mengerang sakit kala sadar. Mataku membuka pelan, mencoba bangun namun tak bisa.

“Dimana aku…” heran, kamar siapa yang tengah kutempati ini? Interior kamar yang teramat beda, barang-barang yang tak kukenali, dan itu terlihat cukup kuno.

Saat sedang sibuk berpikir, tak kusadari bila sebuah pintu kamar ini dibuka dengan pelan, seorang dengan kain yang dililit sedemikian rupa sebagai pakaian, terkejut gelagapan menatapku, ia berteriak “Prabu Jaya telah sadar! Prabu Jaya telah sadar!” teriakan melengking itu sontak membuat orang-orang disekitar sana ikut menyampaikan kabar.

“Prabu!” seru seorang pria dengan nada rendahnya, membuka pintu kamar. Sosok tegap itu mendekatiku.

“Si..apa?” suaraku masih sulit untuk berbicara. Aku mencoba berganti duduk namun ia mencegahnya.

“Prabu jangan dulu duduk. Apakah Prabu tidak mengenali saya?” tanya orang itu dengan nada sedih mendapatiku menggeleng pelan.

Kami diam, ia masih menatapku detail membuatku memalingkan wajah merasa terusik. Pria itu mengetahui dan segera meminta maaf.

“saya permisi hadirkan tabib kerajaan” ucap orang itu sopan dan pergi meninggalkanku sendiri di tempat asing ini.

Beberapa menit kemudian pintu terbuka kemudian pria berperawakan tegas tadi membawa seseorang dengan pakaian putih. Seorang tabib berjalan mengikuti. Keduanya mendekat lalu sang tabib memeriksa keadaan setelah ia meminta izin.

“Hamba mohon maaf yang mulia, anda mengalami lupa ingatan” penjelasan dari tabib sontak membuat pria yang tadi membawanya terkejut.

“Obat apa yang dapat menyembuhkan penyakit beliau?” tanya orang itu pada sang tabib, gelengan yang ia dapatkan.

“Masih belum ada obat untuk mengatasi ini, namun sekiranya saya tahu hal-hal yang dapat membuat raja kembali ingat…” tabib menjelaskan secara rinci, didengar baik-baik olehnya, lali selesai menjelaskan ia meminta izin untuk pergi.

“Raja?”

“Apa Baginda Raja sama sekali tidak mengenali saya?” tanya orang itu dengan sopan. Aku menggeleng. Mendapati jawaban kurang memuaskan, sontak membuatnya menghela nafas kemudian ia berjongkok dengan satu lutut menempel tanah, memberi hormat.

“Saya adalah panglima Kerajaan Majapahit, Gajah Mada” ucapnya.

“Lalu anda adalah raja ke-2 penguasa Kerajaan Majapahit, Bagind Jayanagara” lanjutnya. Sontak membuatku terkejut tak terkira.

“A-apa maksudmu?!?”

“Ya, anda adalah seorang Raja, Baginda Jayanagara” ulangnya lagi. Meski begitu, tubuhku tetap membeku dengan mata melebar.

Hari mulai gelap, kamar ini sedikir kurang penerangan karena hanya ada beberapa lilin yang dipasang. Ya, orang yang mengaku Gajah Mada tadi adalah seorang tokoh sejarah yang sangat terkenal pada masaku dan aku sangat terkejut mendengar bahwa jiwaku dibawa ke masa lalu. Kukira hal khayal seperti ini hanya dalam cerita fantasi tetapi sekarang aku benar benar mengalaminya.

Gajah Mada sudah menjelaskan padauk bahwa sebenarnya ini adalah bukan kamar Raja, melainkan sebuah ruangan rumah di desa Badander yang menjadi tempat ungsianku. Katanya keluarga kerajaan terpaksa diungsikan karena serangan pemberontakan oleh Ra Kuti. Dia adalah salah seorang pelayan istimewa mendiang Raden Wijaya yang menentang Jaya Nagara menjadi Raja hanya karena Jayanagar aini bukan keturunan Kertanegara murni.

“Ya ampun aku benar-benar berada di masa itu…” hembusku frustasi.

Tubuhku mulai menggigil karena hembusan angin malam. Selain aku merasa pusing dengan keadaan diriku, merileksasi kepala yang kubutuhkan, menatap langit malam dimana di abad ini benar-benar membuatku terkejut kembali. Bintang-bintang itu tak sebanyak di masaku. Sangat murni dan jernih.

Aku terkesiap kala terdengar suara ketukan pintu. Orang itu menyahut,

“Baginda, ini saya, Dyah Gitarja…” aku terbengong. Siapa? Dyah Gitarja?”

Aku belum mengenal nama itu selama mempelajari sejarah Majapahit ini.

“Baginda…” ucapnya lagi membuatku tesadar dengan lamunan

“Masuklah…” orang dibalik pintu itu menampilkan wajah eloknya dengan menunduk. Meski begitu aura cantiknya masih terasa.

“Aa—”

“Saya sudah paham situasi baginda yang hilang ingatan,” ia mengangkat wajahnya, “Apa baginda juga tak mengenali saya?” aku hanya menggeleng. Ia menitik air mata, mengusapnya cepat membuatku sedih menatapnya.

“Maaf, saya lancang”. Aku menggeleng.

“Tidak, kamu tidak lancang kok” ucapku, Wanita itu menatapku dengan raut muka bingung.

“Apa yang baginda bicarakan? Saya tidak paham” aku gelagapan mendengar penuturannya. Sontak membuatku mengalihkan arah pembicaraan.

“Jadi… siapa kamu?” ia kembali menunduk mendengar pertanyaanku.

“Saya adalah adik baginda, Tribhuwana Wijaya Tunggadewi, baginda dulu  sering memanggil nama asli Dyah Gitarja”

“Jadi itu nama aslinya”

“Baginda…”

“Ah, apa kamu tahu kenapa saya mengalami lupa ingatan?” ia tampak memikirkan jawaban.

“Baginda dilukai Ra Kuti, hampir. Jika Panglima Gajah Mada tak segera menolong baginda, mungkin baginda sudah…” ia tak melanjutkan ucapannya, malah meminta maaf padauk yang membuatku menggeleng menolak.

Aura canggung ini lama-lama bisa membunuhku, aku mencoba mencairkan mengajak Dyah Gitarja mendekat, namun ia malah menolak, aku tak menyerah, memaksanya lalu ia pun menurut.

Kami sama-sama menatap langit malam nan dingin ini, dikamar ku. Sembari berbincang yang kadang membuat keduanya tertawa kecil, namun lagi-lagi ia malah meminta maaf. Tiba-tiba kepalaku berdenyut sakit membuatku meringis kecil. Aku melirik pada Wanita disampingku, ia tak dengar karena terlalu hanyut dengan langit berbintang, sedikit menghela lega.

“Dyah…” panggilku pelan membuatnya memalingkan pandang padauk.

“Sepertinya hari mulai malam dan dingin, kau harus tidur” Wanita itu menatapku lama, lalu ia tersenyum dan mengangguk.

Seranya melenggang keluar kamar, ia berpesan padauk supaya jaga Kesehatan, akupun mengangguk. Sepeninggal Dyah Gitarja kepalaku kembali pusding dibuatnya. Entah kenapa serasa ingin pecah. Ada apa dengan tubuh Jayanagar aini?

Hari sudah berlalu cepat, disini dengan ragaku menyerupai seorang raja Majapahit, lambat laun membuatku terbiasa. Adik pertamaku menjadi sering bercakap denganku. Gajah Mada pun kadang ikut serta, keluarga kerajaan sudah kembali ke istana setelah Gajah Mada berhasil menghancurkan pemberontakan Ra Kuti dan membunuhnya.

Meski sudah aman, pusing kepalaku semakin hari semakin lama semakin sering terasa. Yang parahnya membuatku jatuh sakit sampai beberapa hari. Pemerintahan yang seharusnya dipimpin oleh Jayanagara malah diwakilkan oleh adikku sendiri karena sang raja yang sering sakit-sakitan.

Pada suatu hari, aku berjalan kaki mengitari area kerajaan. Sebenarnya aku ingin keluar namun Gajah Mada dan Dyah Gitarja menolak mentah-mentah permintaanku. Mereka kira desa masih belum aman untukku keluar. Berdiam diri di kamar Raja membuatku sangat bosan apalagi taka da benda pipih yang super canggih itu didunia ini.. sepanjang kakik melangkah entah kemana pada pelayan dan prajurit memberi hormat padauk yang kadang membuatku rishi. Aku berjalan cukup lama, entah kenapa aku tiba disuatu tempat yang sepertinya area perkebunan kerajaan. Para pelayan yang sibuk memetik hasil panen sambal bercengkrama satu sama lain, membuatku tersenyum.

Kakiku terhenti mendengar para pelayan itu bicara yang membuat senyumku luntur

“Hei, kau tahu akhir-akhir ini banyak sekali bandir, aku jadi khawatir pada keluargaku dirumah.” Ucapnya dengan nada cemas.

“Kau benar, aku juga takut perampok itu melakukan hal buruk pada keluargaku”

“Kenapa kerajaan tak melakukan Tindakan? Padahal berita ini sudah tersebar luas, kurasa raja mulikan telinganya”

“Hei, jaga bicaramu! Kau tahu konsekuensimu menghina raja itu akan dihukum mati”
“Tapi itu benar. Baginda Jayanagar aitu sering sakit-sakitan lalu bagaimana ia memerintah kerajaan jika ia sendiri tidak bisa menjaga diri? Kurasa aku lebih memilih Ratu Tribhuwana meski dia Wanita tapi lebih tegas!”

Aku mendengarnya jelas, sangat jelas. Telingaku sedih mendnegar keluh kesah mereka, sedangkan diriku hanya berleha-leha tanpa tahu apa keresahan rakyatku. Untuk apa aku jadi Raja.

Malam berganti malam, siang berganti siang. Entah sudah berapa lama aku hidup didunia ini. Aku sudah terbiasa dengan lingkungannya, suasana jaman dahulu yang berbeda 180 derajat, pemerintah kerajaan sudah kembali padauk. Meski begitu, Dyah Gitarja dan Gajah Mada membantuku yang notabennya sedang mengalami hilang ingatan. Kini kami sedang berada di ruang persidangan. Aku hanya mengikuti alur pembicaraan pada petinggi kerajaan yang sedang berbicara tentang ekonomi kerajaan yang mulai merosot. Sesekali mereka melirikku membuatku sedikit tak enak hati. Kurasa mereka tak suka jika aku disini.

Dyah Gitarja menemani malamku kali ini, agaknya sudah seminggu pulang kerumahnya, dimana ibunya bertapa hingga saat kemarin ia dipanggil Menteri kerajaan untuk mengatasi masalah. Awalnya ia menolak karena jelas pemimpinnya adalah aku. Namun mereka beralasan bahwa aku masih sakit dan mungkin belum bisa berpikir logis.

“Malam yang indah. Saya baru tahu jika bintang itu secantik ini” ucap Dyah menatap langit lekat

“Aku senang kau menyadarinya” sahutku. Kulihat ia memalingkan wajahnya untuk menatapku.

“Baginda tahu? Dulu baginda bukanlah orang yang suka mengamati langit” wajahku mendongak merasakan hembusan angin, kurang mengerti ucapan orang disampingku. “Tapi sekarang berbeda. Kurasa baginda lebih lembut dan tidak angkuh seperti dahulu” lanjutnya.

Aku tersenyum bukan senang karena dapat pujian, ia menyadarkanku, menjadi seorang Raja memang tak cocok dengan karakteristikku yang terlalu pendiam. Aku mulai mengingat perbincangan para pelayan waktu itu,

“Dyah…Kurasa akan lebih baik jika kau yang memerintah kerajaan ini” ia tertegun mendengar pernyataanku

“Maaf baginda, bukan begitu maksud saya. Saya minta maaf jika baginda merasa tersinggung dengan ucapan saya” ia tergupuh, meminta maaf berkali-kali membuatku menggeleng pelan, dan menatap netranya.

“Tidak, aku tidak tersinggung, jangan merasa bersalah”

“Tapi—”

“Kau tahu? Akhir-akhir ini kepalaku mulai terasa sakit lagi, pengobatan yang dulu tak bertahan lama. Dyah kurasa sakit ini semakin parah, aku takt ahu berapa lama tubuhku bisa bertahan…” lirihku diakhir kalimat, tapi ia masih mendengar, aku terkejut melihatnya mulai meneteskan air mata, membuatku merasa bersalah.

“Jangan menangi, seorang kepala pemerintah tidak akan menangis mendengar ucapan seperti itukan?” ujarku mencoba menegarkan. Ia hanya diam dan mencoba enghentikan senggukannya.

“Dya, mulai sekarang belajarlah memimpin kerajaan. Para Menteri lebih menyukaimu. Mungkin kerajaan akan lebih baik jika ada padamu” aku melanjutkan, ia masih diam tak berani menyela, mala mini menjadi kesaksian untukku, pernyataanku pada adik pertama Jayanagara, membuatku mengingat sesuatu dimana kmeatian Jayanagara terjadi membuatku menghela napas.

“Tidurlah, besok pagi-pagi temani aku ke desa Badander, ajaklah juga Gajah Mada bersamamu”

Dya menatapku dengan raut wajah bingung, aku tersenyum “setidaknya aku ingin memperbaiki kesalahanku sebagai Raja meski hanya satu desa saja, lagi pula des aitu sudah menolong kita saat istana diserang, aku ingin membalas budi” ia tersenyum haru, entah apa yang ia pikirkan, lalu Dyah pamit melenggang keluar kamar.

“Sepeninggalnya aku tak langsung tidur, kepalaku terasa berdenyut lagi, ingatan tentang sejarah raja Jayanagara muncul dikepalaku.

Bolehkah aku mengubah sejarah?

Haha, apa yang kupikirkan? Apa jadinya sejarah berubah karena ulahku

Pagi menjelang, aku terbangun karena sakit kepalaku yang membuatku menyerkit saking hebatnya. Suara ketukan pintu terdengar sepagi ini.

“Mohon maaf Raja, saya diperintahkan untuk Raja segera menghadiri rapat bersama para Menteri” aku heran,

“Kenapa sepagi ini?” ucapku sedikit pelan

“Maafkan hamba raja, hamba pun tidak tahu” lalu pelayan itu pergi setelah ku suruh.

“Ada apa?” tanyaku pada Gajah Mada yang sudah disampingku, ia menatapku

“Ada masalah tentang keamanan beberapa desa, sekiranya bandit-bandit yang meresahkan warga mulai menjadi ancaman, minggu lalu anak kecil diculik oleh bandit, para warga menjadi geram karena keamanan yang tidak berjalan baik” jelasnya Panjang lebar, aku tertegun masalah bandit adalah satu bulan yang lalu kenapa sampai sekarang masih terjadi? Dikala aku masih diam, ada seorang Menteri menggebrak meja membuat semua orang terkejut.

“Saya benar-benar kecewa! Apa yang raja lakukan akhir-akhir ini?! Sistem pemerintahan sudah sangat lemah sejak sepeninggal Raden Wijaya! Belum juga para pemberontak pelayan istimewa Raja yang pasti merugikan kerajaan!” ucapnya lantang dengan nada marah.

Brak!

“Anda tidak seharusnya bicara tak sopan dihadapan Raja. Prajurit! Bawa dia ke penjara!” ucapan Gajah Mada membuatku terbelalak,

“Tu-Tunggu, apa yang kulakukan!?”

“Apa Baginda tak mengerti? Baginda telah dilecehkan!”

Aku memerintah supaya Menteri itu tak dipenjara, “Biarkan saja, aku tak tersinggung!” ucapku tegas, aku berdiri untuk menghentikan aksi dua prajurit yang akan menggeret Menteri itu, namun seketika tubuhku oleng karena sakit kepala itu datang lagi. Untung saja Gajah Mada sigap memapahku. Semua orang terkejut bukan main saat aku mengerang kesakitan.

“Raja!!” aku sedikit mendorong Gajah Mada saat ia berteriak memanggil tabib,

“Jangan dulu, rapat sedang dimulai aku tak ingin mengganggu. Lanjutkan saja panggilan Dyah Gitarja sebagai wakilku”

“Tapi…”

“Itu perintah!” ia diam, lalu menyuruh satu prajurit memanggil Dyah. Beberapa menit ia datang dengan terburu-buru dan raut cemasnya, ia ingin mendekatiku namun aku mencegahnya, memberi isyarat supaya mengikuti sidang saat ini. Sidang selesai, aku berhasil menahan sakit, semua orang tergupuh mendekat padauk, satu menteri tadi yang marah meminta maaf berkalikali padauk,

“Panggil tabib kerajaan kesini” aku menolaknya

“Aku sudah baik-baik saja, dan aku setuju dengan usul Tribhuwana untuk tadi, segera persiapkan segalanya, tangkap bandit yang meresahkan warga, lalu untuk warga yang menjadi korban, beri dia seekor sapi, masing-masing rumah, dan segera cari anak-anak yang diculik bandit” jelasku Panjang lebar membuat mereka menatap kagum. Ini pertama kali aku memerintah hal yang sewajarnya sebagai seorang raja.

Aku sudah diantar kekamar, mereka memaksaku untuk kembali tidur, hari sudah cukup gelap namun aku sama sekali belum menutup mata, sibuk dengan pikiranku, memikirkan bagaimana nasibku saat ajalku diraga ini diambil, hal itu membuatku takut karena notabennya aku sudah tahu. Aku masih bingung apa aku benar-benar dipindah kemasa ini atau hanya mimpi saja namun sakit kepala ini menjadi saksi jika semua ini bukanlah mimpi. Sakit itu datang lagi, semakin parah, membuatku mengerang kuat yang mungkin terdengar dari luar. Aku sudah tidak tahan lagi. Tubuhku ambruk bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka kasar.

“Raja!” orang yang berteriak itu adalah Gajah Mada.

“Raja bertahanlah!!” ucapnya lalu memindahkan tubuhku ke ranjang. Gajah Mada berteriak keras memerintah pelayan untuk cepat memanggil tabib kerajaan, sudah beberapa menit berlalu, sakitku masih terasa. Beberapa kali juga aku mengerang dan tabib itu belum datang yang membuat Gajah Mada sangat frustasi,

“Ga—jah Mada…” ia mendekat kala aku memanggilnya

“Bertahanlah baginda…Tabib akan segera datang” ucapnya cemas. Kami menunggu sekitar satu jam lebih dan selama itu aku menahan sakit yang tak kunjung mereda. Dyah Gitarja taka da karena ia kembali ke tempat tinggalnya bersama ibunya. Pintu terdengar diketuk, Gajah Mada dengan sigap membuka pintu disana menampilkan tabib kerajaan membuatnya menghela nafas, namun aku melihat tabib itu, aku tahu ekspresi kurang mengenakkan. Apakah ini akhirnya?

Tabib itu mulai memeriksa dan menanakan apa keluhanku lalu mendiagnosa bahwa ada benjolan yang sudah membesar dikepalaku. Gajah Mada terkejut bukan main. Lalu ia bertanya bagaimana cara mengobatinya. “benjolan itu harus diambil sekarang juga atau nyawa baginda tidak bisa terselamatkan” Gajah mada membeku ditempat. Ia menatapku dengan pandangan khawatirnya, meminta persetujuanku yang kujawab anggukan.

“Gajah…Mada…Kemarilah” ia kemudian mendekat.

“Jangan mencemaskanku, kau tunggu diluar” ucapku singkat. Awalnya ia menolak namu kala mataku menyiratkan ketegasan, membuatnya mengangguk patuh. Tanpa disadari tabib itu ikut tersenyum ditempat.

“Hamba akan mulai, jadi baginda akan hamba bius” aku mengangguk lemah.

Agaknya sudah dua jam Gajah Mada menunggu diluar kamar Raja, awalnya ia hanya cemas beberapa kali juga ia sedikit menguping. Ia heran karena tak mendengar sesuatu dari dalam. Karena saking penasarannya, ia dengan pelan mengintip dari celah pintu. Ia membeku. Kala tabib itu mulai membius tubuh kemah sang Raja, dengan cepat ia membuka belatinya.

Jleb

“Raja!! Tidak!!”

Jleb!

Darah sudah merembes, mengotori seluruh ranjang. Gajah Mada mendorong kuat tubuh tabib yang awalnya menindih tubuh Jayanagara.

“Ra-Raja?” Ia sedikit menggoyang tubuh tak berdaya itu dengan tangan bergetar mengulur tangannya untuk memastikan denyut nadinya. Sudah tidak ada. Raja sudah tiada. Gajah Mada mendengar Rintihan sakit dari arah tabib itu, amarahnya tiba-tiba membuatnya menarik pedang yang ia miliki. Tanpa belas kasihan, ia menusuk berkali-kali dada tabib itu. Ia mencipratkan darahnya kemana-mana. Keluarga kerajaan sangat terpuruk atas meninggalnya sang raja, terutama adik pertamanya, Dyah Gitarja tanpa tahu apa ia menangis setiap malamnya di dalam kamar milik mendiang kakak kesayangannya. Sudah seminggu kematian Raja, namun rasa duka cita itu masih membendam dihati rakyatnya, meski terbilang Raja yang lemah dan angkuh, namun Raja Jayanagara rupanya begitu berjasa untuk masyarakat. Hanya saja sikap buruk yang terlalu banyak menutupi kebaikannya, hal itu hanya diketahui Dyah Gitarja seorang.

Sepeninggal Raja. Tahta kerajaan pun menjadi kosong. Ini adalah sebuah masalah serius karena taka da keturunan laki-laki Majapahit setelah Jayanagara. Akhirnya adiknya Dyah Gitarja lah yang diangkat meski banyak orang yang menolaknya. Namun dengan ketegasan Dyah Gitarja, mereka menjadi cukup yakin untuk menyerahkan pemerintahan kepada seorang Wanita. Hal ini menjadi hal pertama dalam sejarah kerajaan Majapahit, yaitu memiliki pemimpin seorang Wanita.

“Baginda, tidurlah dengan damai diatas sana, disini saya akan melakukan perintah Baginda mulai saat ini” ucapnya sembari menatap langit berbintang di jendela kamar Raja.

“Dokter!! Dokter!!” seorang Wanita berteriak memanggil perawat disana mendekati sang Wanita yang terlihat sudah berumur itu.

“Annakku, anakku siuman!” seketika itu pula perawat dengan cepatnya memanggil sang dokter.

Dengan berhati-hati, dokter memeriksa remaja yang telah bangun dari tidurnya, menanyai bagaiana perasaannya yang hanya dijawab pelan.

“Anak ibu masih butuh istirahat. Ototnya masih tegang karena lama tidak digerakkan. Seiring waktu pikirannya akan mulai terbiasa, saat ini ia masih linglung jadi sebisanya ajak ia berbicara” ibu itu menangguk lalu berterima kasih pada dokter.

“Ibuuu…” panggil lirih remaja itu dikasur pasiennya. Lalu sang ibu mendekat” ada apa nak, ibu disini”

Si remaja itu menatap wajah ibunya yang tersenyum.

“Berapa lama aku tidur?” tanyanya.

“2 bulan. Apa kau merasa sakit?” tanya sang ibu dengan nada cemas dan yang ditanya hanya menggeleng lalu menarik garis bibir keatas.

“Ibu… Aku bermimpi Panjang”

Comments